Sabtu, 14 November 2015

Warisan Mgr. Johannes Pujasumarta


Berpulangnya Mgr. Johannes Pujasumarta, Uskup Agung Semarang pada hari Selasa, 10 Nopember 2015 membuat umat katolik di Keuskupan Agung Semarang bersedih. Upacara Penghormatan terakhir selalu dihadiri oleh banyak orang, bahkan tidak hanya orang katolik saja, melainkan orang-orang yang berkeyakinan lain turut berduka atas kepergian Mgr. Johannes Pujasumarta menghadap Bapa di Surga.

Berita-berita di surat kabar cetak, media on line, ataupun media sosial juga memuat pula liputan upacara perayaan ekaristi di Gereja Katedral, di kapel Seminari Tinggi Kentungan, sampai dengan upacara pemakaman yang diadakan di Komplek Makam para imam diosesan Keuskupan Agung Semarang di Kentungan.

Meski kita bersedih, tetapi kita juga layak bersyukur atas warisan yang ditinggalkan oleh Bapak Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta untuk kita semua. Warisan tersebut bukanlah berbentuk uang miliaran, sebidang tanah yang luas, emas berkilo-kilo, atau barang berharga lainnya. Tetapi warisan yang diberikan oleh Mgr. Johannes Pujasumarta adalah teladan yang beliau tunjukkan selama hidupnya untuk kita.  Sikap teladan itu diantaranya:

Ketaatan dalam Melayani
Teladan ketaatan Mgr Johannes Pujasumarta dapat kita lihat saat beliau berkenan menahbiskan Diakon Fransisco El Tara menjadi imam untuk Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 15 Oktober 2015 yang lalu. Dalam keadaan sakit, beliau tetap berkeinginan menahbiskan Diakon El Tara dengan didampingi oleh Mgr. Pius Riana Prabdi (Uskup Ketapang). Sebenarnya tim dokter tidak mengijinkan 100% karena melihat kondisi Mgr Johannes Pujasumarta yang kurang memungkinkan, tetapi melihat keinginan dan semangat yang kuat dalam diri monsignur, pada akhirnya tim dokter memberi lampu hijau kepada Mgr. Johannes Pujasumarta untuk menghadiri upacara pentahbisan itu. Semboyan “Duc in Altum” dan sikap seperti Burung Pelikan (Lambang Keuskupan Agung Semarang) benar-benar diimani oleh Mgr. Johannes Pujasumarta dalam penggembalaannya.

Kesederhanaan
Mgr. Johannes Pujasumarta tidak pernah berpenampilan yang super wah, dalam kesehariannya beliau selalu tampil sederhana. Bahkan menurut para imam, saat pertemuan-pertemuan bersama para imam, Mgr Johannes Pujasumarta lebih senang memakai kaos dan sandal seadanya. Menurut orang-orang yang dekat dengan beliau, Mgr Johannes Pujasumarta tidak pernah berubah, baik saat menjadi pastor, vikjend Keuskupan Agung Semarang, Uskup Bandung, maupun Uskup Keuskupan Agung Semarang sikapnya tetap sama, yaitu sederhana.

Berkawan dengan Siapa Saja
Mgr. Johannes Pujasumarta tidak memilih-milih dalam berkawan, dengan siapa saja Mgr. Johannes Pujasumarta mau berteman dan bersahabat. Baik melalui perjumpaan secara langsung ataupun melalui akun-akun yang dimilikinya di dunia maya. Mgr. Johannes Pujasumarta memang mencintai dunia maya, bahkan oleh rekan-rekan Uskup, beliau dijuluki sebagai “Uskup Internet Indonesia”.

Pasrah akan Kehendak Tuhan
Sikap pasrah itu ditunjukkan oleh Mgr Johannes Pujasumarta saat ia mengatakan, “Jangan meminta untuk kesembuhan saya, tetapi doakan saja yang terbaik untuk diri saya.” Ungkapan tersebut mungkin sangat sederhana, tetapi mengandung sikap pasrah dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk beliau.


Teladan-teladan yang ditinggalkan oleh Mgr. Johannes Pujasumarta untuk kita semua merupakan warisan yang sangat berharga dan melebihi harta duniawi yang bisa sewaktu-waktu hilang karena dicuri orang. Karenanya kita layak mencontoh teladan tersebut, dan berusaha menerapkan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Mgr. Johannes Pujasumarta semasa hidupnya.

Terima Kasih Mgr. Johannes Pujasumarta, atas warisan yang engkau berikan kepada kami.

* Natalia Anindiya

(Dosen Pengampu : G. Daru Wijoyoko)

2 komentar: