Pernahkah anda
mendengar lagu “Panggung Sandiwara”? Dalam syair lagu tersebut dikatakan “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya
mudah berubah, ada peran watak, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita
bersandiwara? Mengapa kita bersandiwara?”
Lagu tersebut kiranya tepat di jaman sekarang ini dimana banyak orang berpenampilan tidak seperti keadaannya, mereka dalam kehidupan kesehariannya seakan-akan seperti layaknya seorang aktor dan aktris yang dituntut untuk memerankan sesorang yang bukan dirinya.
Akibat gengsi
dengan teman-temannya, ada yang berhutang kesana-kemari untuk dapat sejajar
atau bahkan melebihi temannya itu. Atau demi mendapatkan seseorang yang
diidam-idamkannya, mereka berupaya dengan segala cara untuk berpenampilan tajir
(kaya), padahal keadaannya dia hidup susah (miskin), dan masih banyak contoh
lainnya.
Apakah dengan berperan bukan sebagai dirinya akan membawa kedamaian dalam hidupnya? Atau memang perilaku seperti itu sekarang sudah menjadi treanding topic manusia modern yang hidup di jaman yang super canggih ini. Lantas, apakah yang akan mereka capai sesungguhnya? Apakah mereka tidak berpikir dampak yang akan terjadi dengan perilaku-perilaku “bohong” yang mereka perankan dalam kesehariannya?
“Topeng” yang selama ini dikenakan, pada akhirnya tentu akan rusak dan dengan sendirinya wajah asli kita yang nampak. Bila itu yang terjadi, mustahil kedamaian akan tercipta, yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa kecewa, penyesalan, frustasi, dan yang lebih buruk lagi bisa saja terjadi.
Melihat realita
ini saya lalu berandai-andai, alangkah indahnya dunia ini bila kita mau bersikap
seperti anak kecil yang masih lugu dan polos. Cobalah kita perhatikan suasana kelas
anak-anak Play Group, murid-murid itu mengungkapkan ekspresi dirinya yang
sesungguhnya, tidak ada yang ditutup-tutupi, apa adanya. Suka bilang suka,
tidak suka juga dikatakan tidak suka. Senang mereka tertawa, sedih mereka akan
menangis.
Sebagai sharing
saya akan ceritakan pengalaman kecil dari anak saya yang masih duduk di kelas 1
Sekolah Dasar. Sepulang sekolah dia bercerita bahwa ulangannya ada yang dicoret
oleh gurunya karena jawabannya kurang lengkap, dia berkata, “Ulanganku to ada yang kurang lengkap tapi
kok nilainya 100, harusnya kan 90 to ya.... Bu Guru tu pie to?”.
Ungkapan itu mengajarkan kepada kita bahwa seorang
anak kecil itu masih polos, dia tidak mengejar nilai, tetapi menampilkan sikap
jujur yang pantas kita teladani.
Karenanya saya
mengajak semuanya saja, untuk tidak bermain sandiwara, memakai topeng, ataupun
sejenisnya, melainkan berpenampilanlah apa adanya, seperti halnya anak kecil
yang tidak ada yang ditutup-tutupi, dengan menampilkan wajah asli mereka.
Mari kita
singkirkan topeng-topeng palsu yang melekat dalam diri kita. (* Natalia Anindiya)
Dosen Pengampu : G. Daru Wijoyoko

Tidak ada komentar:
Posting Komentar